Mengawasi Anak Yang Senang Dengan Media Sosial

Mengawasi Anak Yang Senang Dengan Media Sosial

Mengawasi Anak Yang Senang Dengan Media Sosial

Perlu orangtua sadari bahwa saat ini adalah zaman virtual. Pada zaman digital ini gadget dijadikan kebutuhan primer karena dapat dengan mudah digunakan untuk berkomunikasi ataupun mendapatkan informasi. Pada usia 10 tahun, anak sudah memasuki masa pra-remaja, sehingga anak merasa lebih enak dan nyaman mengobrol dengan teman-temannya daripada dengan orangtua. Pada usia tersebut kebutuhan eksis mereka juga sedang tinggi. Dengan demikian, memiliki akun media sosial membuat anak merasa terhubung dengan dunia yang luas.

Meski begitu; ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orangtua menghadapi anak yang bermain di media sosial, antara lain:

Pertama, sebelum memberikan anak device orangtua harus membangun sistem yang baik di rumah. Buat kesepakatan dengan anak mengenai waktu bermain gadget. Tentukan jam-jam di mana anak boleh atau tidak bermain device. Ajak anak untuk menentukan waktunya. Tidak hanya waktu, anak juga diajak untuk menentukan konsekuensi apa yang didapat apabiia anak tidak mematuhi aturan yang sudah dibuat. Hal lain yang bisa dilakukan adalah tidak meletakkan televisi dan komputer di dalam kamar. Televisi dan komputer sebaiknya diletakkan di public region seperti ruang keluarga.

Kedua, buat kesepakatan dengan anak agar orangtua bisa mengecek isi ponsel anak dan melihat situs apa saja yang diakses oleh anak. Kalau perlu minta password dari media sosial anak. Beri pemahaman bahwa saat ini banyak kejahatan yang terjadi karena media sosial. Anak umur 10 tahun biasanya sulit apabiia hanya diberikan penjelasan, karena itu berikan buktinya. Perlihatkan koran yang memuat berita-berita tersebut. Orangtua juga bisa ikut memiliki akun di media sosial dan berteman dengan anak di media sosial mereka. Dengan begitu orangtua tahu apa yang dilakukan anak. Tidak hanya itu, orangtua tahu siapa teman-teman anak.

Ketiga, orangtua juga dapat memberikan pemanaman pada anak bahwa jumlah like, retweet, dan love pada sosial media itu adalah bukan harga diri mereka. Banyak anak merasa bahwa jika banyaknya jumlah like dan love pada jejaring sosial membuat mereka terlihat semakin berharga. Ingatkan pada mereka bahwa anak sangat berharga karena memperoleh kasih sayang dari orang-orang yang ada di sekitar mereka, seperti orangtua, kakak, adik, ataupun keluarga lainnya. Tanamkan hal tersebut sejak dini sehingga ketika besar, nilai-nilai tersebut sudah melekat pada sang anak. Niken Wulandari. (Info Kecantikan)

You Might Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *