Kenali Gajala Fimosis (Sulit Buang Air Kecil) Pada Anak Sejak Dini

Bagi seorang ibu, dianugerahi anak yang sehat dan aktif merupakan suatu kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Melihat putra atau putri tumbuh dan berkembang tanpa ada gangguan adalah hal yang didambakan orangtua. Namun bagaimana jika jagoan kecil Anda mengeluhkan sakit di kelaminnya? Gangguan kesehatan yang kini mulai merisaukan orangtua adalah adanya gangguan fimosis pada bayi dan anak laki-laki. Lantas apa yang dimaksud gangguan fimosis itu?

Memiliki keluarga dan anak-anak yang sehat adalah idaman semua orangtua, apalagi jika anak tumbuh aktif dan ceria. Namun anak-anak dan bayi sangat rentan terhadap penyakit. Orangtua perlu memberi perhatian khusus pada kesehatan anak, terutama jika ada keluhan dari buah hati. Bagi orangtua yang mempunyai anak laki-laki, waspadai keluhan sulit buang air kecil. Hai tersebut bisa saja merupakan gejala fimosis.

Apa sih fimosis itu? Menurut dr. Hindra lrawan, SpA(K),M.Trop.Paed, spesialis anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, fimosis atau phimosis adalah keadaan di mana kulit preputium (kulup) tidak dapat ditarik ke belakang melalui glans penis. Kulit preputium ini adalah kulit yang melingkari dan menutupi penis. Ditambahkan dr. Tatang Puspandjono, SpA, dokter Siloam MRCCC Hospital, fimosis adalah terjadinya penyempitan atau perlengketan kulup penis sehingga kepala penis tidak bisa terbuka sepenuhnya. Keluhan yang dialami oleh penderita sering kali infeksi dan peradangan pada ujung penis, sehingga sulit buang air kecil karena terhalang oleh kulit penis.

Gejala Tidak Jelas. Umumnya, fimosis tidak dapat langsung diketahui karena gejala yang timbul hampir sama dengan penyakit anak lainnya. Yang sering terjadi, fimosis pertama kali diketahui Secara tidak sengaja ketika anak mengalami demam tanpa disertai gangguan saluran pernapasan seperti batuk dan pilek. Jika demam muncul lagi dalam jangka waktu yang tidak lama, biasanya dokter akan menyarankan untuk melakukan uji laboratorium pada darah anak. Dari hasil uji laboratorium, jika kandungan leukositnya berada di atas angka normal 4 x 109 hingga eleven x 109 consistent with liter darah, maka tingkat infeksi pada anak terbilang tinggi. Hal tersebut umumnya disebabkan oleh adanya infeksi pada ujung penis, yang disebabkan oleh fimosis.

Menurut dr. Tatang, orangtua juga perlu mencermati gejala-gejala seperti, kulit kelamin si kecil tak bisa ditarik ke arah pangkal ketika akan dibersihkan atau anak mengejan saat buang air kecil karena muara saluran kencing di ujungnya tertutup. Biasanya ia menangis karena sakit, dan pada ujung alat kelaminnya tampak mengembung. Kemudian, air seni yang keluar tidak lancar, terkadang menetes dan memancar dengan arah yang tidak dapat diduga. Hal-hal tersebut yang kemudian akan menimbulkan infeksi pada anak.

Dikatakan dr. Hindra, fimosis terbagi menjadi dua, yaitu fimosis fisiologik atau alamiah, dan fimosis patologik. Fimosis alamiah berpotensi terjadi pada bayi yang baru lahir, sedangkan fimosis patologik pada remaja. Fimosis disebut patologik apabila preputium (kulup) menjadi tidak dapat ditarik padahal sebetulnya dapat dilakukan. Hal tersebut biasanya disebabkan oleh terbentuknya jaringan parut di kulit. Rendahnya kebersihan dan terjadinya infeksi berulang mengakibatkan munculnya jaringan parut pada lubang preputium, sehingga terjadi fimosis patologik. Fimosis fisiologik (alamiah) terjadi akibat adanya perlekatan yang terjadi di lapisan kulit bagian dalam preputium dan glans. Perlekatan ini dapat pulih secara spontan dengan penarikan preputium berkali kali dan ereksi, maka bersamaan dengan pertumbuhan, fimosis alamiah akan menghilang dengan bertambahnya usia. Namun melepas perlekatan dapat menyebabkan sobekan mikro pada lubang preputium.

Atasi. Ada tiga Cara untuk mengatasi fimosis, yaitu dengan disunat (khitan), obat dan peregangan. Banyak dokter yang menyarankan dilakukan khitan untuk menghilangkan masalah fimosis secara permanen. Rekomendasi ini diberikan terutama bila fimosis menimbulkan kesulitan buang air kecil atau peradangan di kepala penis (balanitis). Kemudian, terapi obat dapat diberikan dengan saiep yang meningkatkan elastisitas kulup. Pemberian salep ini harus dilakukan secara teratur dalam jangka waktu tertentu agar efektif. Selain itu dilakukan peregangan. Terapi peregangan dilakukan secara bentahap pada preputium, yang dilakukan setelah mandi air hangat selama lima sampai sepuluh menit setiap hari. Peregangan ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari luka yang menyebabkan pembentukan parut.

Jika fimosis dan infeksi tidak segera diobati, mungkin akan terjadi kesulitan dalam buang air pada anak, anak akan sering sakit panas, dan meraba-raba kemaluannya. Pada infeksi akut dapat menyebabkan kencing nanah. Hal yang paling ditakutkan dari segi medis apabila terjadi infeksi bertingkat (ascendes) dapat mengakibatkan infeksi ginjal. Dalam jangka panjang, dampaknya adalah ketika anak sudah dewasa nanti, yang memungkinkan terjadinya gangguan dalam melakukan hubungan seksual berupa ketidaksuburan atau hambatan seksual lainnya di kemudian hari.

Meskipun fimosis dapat terjadi karena bawaan lahir, namun menurut dr. Hindra, fimosis tidak dapat dideteksi semenjak bayi masih di dalam kandungan. Fimosis juga bukan penyakiti genetik, karena meskipun ayahnya pernah mengalami kelainan fimosis ketika bayi maupun ketika remaja, sang anak belum tentu akan mengalami hal yang sama. Namun timbuinya fimosis tidak dapat dioegan. Menurut dr. Tatang, sebaiknya orangtua periu memahami bahwa anak kecil biasanya sulit menceritakan dengan tepat apa yang dirasakannya. Untuk itu orangtua hendaknya peka dan teliti mengamati kesehatan anak, terutama organ intim anak. Yuniska Mega Putri

Sumber: Tabloid Femme

You Might Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *