Cara Mendidik Anak Agar Punya Jiwa Kepemimpinan

Cara Mendidik Anak Agar Punya Jiwa Kepemimpinan

Kepemimpinan merupakan salah satu hal yang diperlukan bagi seorang anak untuk terus tumbuh berkembang menjadi pribadi dewasa yang berperilaku susila. Banyak aspek yang memengaruhi kepemimpinan baik dari dalam diri anak maupun dari lingkungan sekitar. Untuk menggali seluruh aspek yang berkesinambungan agar bermanfaat dan saling mendukung tentunya diperlukan peran orangtua. Tujuannya agar seluruh aspek yang memengaruhi dapat berfungsi secara maksimal hingga menghasilkan jiwa kepemimpinan dalam diri anak. Bagaimana caranya?

Tidak sedikit orangtua yang mengharapkan anaknya menjadi seorang pemimpin. Baik sebagai pemimpin dalam konteks luas yaitu ketika anak terjun ke lingkungan sosial dan mulai tumbuh untuk berinteraksi secara dewasa. Atau menjadi pemimpin dalam lingkup kecil yaitu pemimpin untuk dirinya sendiri agar dapat mengatur diri dan menyelesaikan masalah jika menghadapi konflik serta dapat membawa pengaruh positif terhadap lingkungan di sekitar. Sesungguhnya menjadi pemimpin tak harus menjadi seorang presiden, tetapi menjadi pemimpin di berbagai aspek kehidupan baik untuk dirinya sendiri dan orang lain sudah menjadi sesuatu yang dapat dibanggakan.

Berbagai Aspek. Menurut Anna Surti Ariani, S.Psi.,M.Si, psikolog, dalam membicarakan soal kepemimpinan, hal utama yang menjadi sorotan bukanlah mengenai anak yang berada di depan untuk menjadi seorang pemimpin. Tetapi, membicarakan banyak aspek yang saling memengaruhi satu sama lain untuk menghasilkan kepemimpinan tersebut. Seperti, bagaimana anak menjadi percaya diri sehingga mempunyai pendapat sendiri, bagaimana anak dapat memengaruhi orang lain dalam berbagai cara.

Salah satu yang dapat dilakukan orangtua, misalnya membujuk anak melakukan sesuatu, mendelegasikan sesuatu atau mengajak melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan bersama-sama. Untuk menghasilkan kepemimpinan tersebut dibutuhkan beberapa aspek yang saling berkesinambungan seperti kemampuan berkomunikasi, berinteraksi, bersosialisasi dengan lingkungan dan orang lain.

Dalam aspek kemampuan berkomunikasi, anak sebaiknya dibimbing untuk berbicara dengan lancar dan berkomunikasi yang tepat. Misalnya, mengucapkan kata pertama di usia satu tahun. Mengucapkan kalimat di usia dua tahun dan di usia 5-6 tahun anak sudah mulai bercakap-cakap. Saat anak mulai belajar bercakap-cakap, sebagai orangtua sebaiknya mendengarkan dan saling berinteraksi agar nantinya anak terbiasa untuk menjalin komunikasi dengan lingkungan.

Kemampuan membujuk orang lain untuk melakukan sesuatu yang positif demi kemajuan bersama tentu saja anak harus memiliki kemampuan bersosialisasi. Memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik harus didukung dengan banyaknya pengalaman bersosialisasi. Misalnya sejak kecil, anak mempunyai teman-teman untuk belajar bersama. Selain belajar bersama, anak sebaiknya pernah mengalami masalah dengan teman-temannya agar dia belajar mengatasi masalah tersebut. Jika anak memiliki masalah, biarkan anak untuk berusaha menyelesaikan masalahnya tersebut. Orangtua sebaiknya tidak terlalu melindungi atau membela anak karena akan membuat anak menjadi tidak belajar dan kurangnya pengalaman dalam mengatasi konflik yang terjadi.

Ditambahkan Ristriarie Kusumaningrum, M. Psi, psikolog anak, membentuk karakter kepemimpinan dapat dilakukan sejak usia dini. Hal yang harus ditanamkan dalam proses tersebut adalah dasar-dasar atau disiplin yang dapat digunakan anak ketika ia sudah besar dan menjadi pemimpin. Namun, yang paling penting untuk dibentuk adalah mengajarkan anak untuk menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.

Sebagai orangtua, Anda harus mengajarkan anak dari hal yang sederhana seperti disiplin, menghargai, menghormati orang lain, tanggung jawab dan kejujuran. Tanggung jawab dapat dikatakan sebagai aspek yang lebih besar dari aspek lainnya dalam hal kepemimpinan. Karena itu, mulailah menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak dari hal kecil dan sesuai dengan usianya secara bertahap. Sebaiknya, hindari untuk memberikan tanggung jawab sekaligus. Contohnya, pada usia 1-3 tahun mulai dengan mengajarkan pada anak tentang kebiasaan menjaga kebersihan diri dan lingkungan atau membiasakan anak untuk membereskan mainannya sendiri.

Ketika anak sudah beranjak dewasa maka tanggung jawab yang diberikan pun ditingkatkan satu demi satu. Ketika anak sudah mulai berlatih tanggung jawab, maka secara tidak langsung anak sudah dilatih untuk lebih percaya diri terutama pada dirinya sendiri. Dengan proses bimbingan tersebut, anak akan semakin mengenali dasar kepemimpinan sehingga dapat belajar lebih jujur dan berani mengungkapkan pendapatnya sendiri.

Selama proses pembelajaran, pasti anak membutuhkan contoh atau function model untuk memahami makna dari ajaran disiplin dan tanggung jawab yang diberikan. Sebagai orangtua, contoh itu harus dipertanggungjawabkan secara efektif. Di saat Anda mengharapkan anak dapat tampil sebagai pemimpin, maka contoh yang terbaik dapat diambil dari lingkungan terdekat. Di samping itu, anak tetap harus diberikan kesempatan untuk menikmati masa anak-anaknya. Pemberian tanggung jawab atau goal yang terlalu tinggi sebaiknya diukur kembali dan disesuaikan dengan usia serta kemampuan anak.

Meskipun banyak gaya kepemimpinan yang sekarang banyak dikenal seperti demokratis, otoriter dan lain-lain, namun gaya kepemimpinan yang terpenting adalah gaya pemimpin yang dapat bertanggung jawab dan jujur baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Sebaliknya jika anak belum menyadari arti pentingnya sebagai pemimpin, bisa jadi anak cenderung menjadi pengikut yang belum berani untuk mengungkapkan pendapatnya. Tips. Untuk itu, ada beberapa hal yang dapat diajarkan kepada anak demi memaksimalkan proses pembelajaran dalam hal kepemimpinan, di antaranya:

  1. Orangtua harus percaya kepada anak bahwa anak memiliki kemampuan untuk tampil berani dan percaya diri.
  2. Memberikan kesempatan pada anak untuk tampil dan memberikan pendapatnya. Dalam hai ini, orangtua dapat menjadi pendengar yang baik. Dengarkan pendapatnya dan berikan kepercayaan kepada anak untuk memilih pilihannya.
  3. Mengajarkan prinsip jujur kepada anak. Sebelum mengajarkan poin tersebut kepada anak, sebaiknya orangtua mulai mempraktikkannya secara konsisten agar anak mudah untuk memahami dan mengikutinya.
  4. Penyelesaian masalah. Berikan contoh dan kesempatan pada anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Orangtua dapat memberikan masukan atau saran tetapi anak yang sebaiknya memutuskan. Walaupun keputusannya masih belum tepat, jadikan hal tersebut bagian dari pengalamannya.
  5. Berikan bimbingan secara tepat dan efektif. Membimbing berarti dapat memberikan teguran jika anak melakukan hal yang menyimpang. Namun perlu diingat, cara menegurnya tidak merendahkan anak seperti tidak dengan berteriak atau menghukum terutama hindari hukuman fisik.
  6. Orangtua sebaiknya mengerti cara pengasuhan yang tepat dengan terus belajar dari berbagai sumber. Misalnya, banyak membaca dan diskusi. Selalu berusaha berinteraksi dengan anak-anak. Selain itu, orangtua sebaiknya menghindari pola pengasuhan yang negatif misalnya kritik yang berlebihan, pemberian hukuman yang terlalu banyak tanpa memberikan penjelasan. Widi (Info Kecantikan)

You Might Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *