6 Cara Mengajarkan Anak Mau Makan Sayur dan Buah

Mengajarkan anak memilih makanan sehat sejak dini memang bukan perkara mudah. Faktor lingkungan dan rasa makanan terkadang menjadi alasan mengapa anak lebih memilih jajanan di luar rumah. Namun, anak sebaiknya tetap dibimbing untuk makan makanan bergizi agar terbiasa hingga dewasa. Pastinya hal tersebut sangat bermanfaat untuk kesehatan anak di masa yang akan datang Bagaimana caranya?

Banyaknya jajanan atau camilan yang menawarkan rasa renyah, gurih dan sedap membuat anak menjadi enggan untuk menikmati makanan sehat ala rumahan. Khususnya di kota besar, banyak orangtua yang kewalahan membuat anaknya jatuh hati pada makanan sehat seperti sayuran atau buah-buahan segar. Padahal seperti diketahui konsumsi makanan sehat dan bergizi sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan stamina tubuh sehari-hari.

Menurut Yuvita Fandy, M.Psi, Psikolog, kebiasaan anak untuk makan makanan sehat tentu saja berawal dari dalam rumah. Peran orangtua, terutama ibu, dalam memilih makanan sehat sangat besar dan sebaiknya sudah dilakukan sejak anak masih di dalam kandungan. Ketika memberikan ASI eksklusif, ibu juga harus tetap makan makanan sehat supaya gizi anak terpenuhi. Kemudian dilanjutkan dengan makanan padat yang pertama kali diberikan kepada bayi berusia enam bulan ke atas sebagai makanan pendamping ASI. Setelah itu, bayi akan mulai makan bubur yang dapat dimasak dengan bahan tambahan seperti sayur dan mulai makan buah.

Role Model. Dalam tahap ini, sebaiknya ibu atau pengasuh mulai memasukkan berbagai macam sayur-sayuran dan daging ke dalam bubur atau hanya diambil kaldunya saja. Bisa juga sayur-sayuran yang cukup lembek dapat diberikan kepada anak setelah dihancurkan bersama dengan bubur. Dengan cara seperti ini anak akan terbiasa untuk makan makanan sehat.

Bertambahnya umur, anak akan makan bersama dengan orangtuanya. Mereka akan makan bersama di meja makan, di saat ini orangtua menjadi contoh utama bagi anak dalam makan makanan sehat. Orangtua yang makan sayur sebagai salah satu lauk harian atau selalu ada dalam menu makan pagi, siang dan sore secara tidak langsung akan mengajarkan dan membiasakan anak, ikut makan. Jika orangtua ingin mengajak anak makan di luar, pilihan orangtua akan memengaruhi preferensi anak terhadap makanan sehat. Dengan demikian orangtua tetap menjadi contoh utama (role version) yang memengaruhi kebiasaan positif mereka dalam perkembangannya. Selain menjadi role model yang baik, anak dapat diperkenalkan satu in step with satu dengan berbagai jenis makanan sehat, mulai dari bentuk, aroma hingga rasa dari setiap jenis makanan sehat tersebut.

Anak yang kurang menyukai sayur-sayuran dan buah-buahan bisa dipicu karena penampilan kurang menarik dari sayur-sayuran dan buah-buahan itu. Hal ini bisa saja disebabkan warna-warna monoton dari bahan makanan tersebut yang kurang memiliki daya tarik bagi indera penglihatan anak. Bentuk asli sayuran yang terlihat kurang menarik juga menjadi Salah satu alasan lainnya. Ada beberapa sayuran dan buah-buahan memiliki aroma yang terlalu tajam untuk anak-anak sehingga mereka kurang menyukai dan tidak tertarik untuk menyentuhnya. Rasa yang terlalu asam, pahit atau tidak manis juga membuat anak-anak segan untuk memakannya.

Anak yang tidak dibiasakan makan sayur-sayuran dan buah-buahan sejak usia dini atau orangtua yang juga kurang menyukai sayur dan buah dapat membuat anak menjadi kurang suka. Ketika anak mulai bersosialisasi, misalnya anak sudah sekolah dan duduk di bangku SD kelas empat, maka teman-temannya secara tidak langsung akan memengaruhi pilihan makanannya. Namun, dalam keseharian anak akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama orangtua di rumah, maka pengaruh orangtua akan lebih besar dibandingkan teman-temannya. Dengan demikian ketika anak semakin dewasa, kebiasaan yang telan ditanamkan sejak kecil maka akan memengaruhi kebiasaan makannya di masa yang akan datang.

Selain pengaruh keluarga sebagai faktor utama dalam pembentukan karakter anak, lingkungan juga menjadi pengaruh utama ketika seseorang menyesuaikan diri dengan sebuah kebiasaan. Bila seorang anak melihat teman sebayanya tidak makan makanan sehat akhirnya lambat laun dia akan terbawa. Namun, sebagai orangtua, anak diberikan pengertian dan pengarahan agar tetap mengikuti pola makan yang sehat sehingga tidak terpengaruh oleh lingkungannya.

Tetapi, bagi anak yang sejak kecil tidak terbiasa menikmati sayur-sayuran atau buah-buahan, tidak menutup kemungkinan adanya persepsi negatif mengenai sayur-sayuran dan buah-buahan di masa kecil akan terus terbentuk selama bertahun-tahun. Meskipun sudah terbiasa tidak makan sayur-sayuran, saat menginjak remaja ketika ia diperkenalkan kembali dengan aneka sayuran, maka bisa jadi akan memiliki ketertarikan dengan sayuran di masa yang akan datang. Hal yang paling panting adalah orangtua tetap memperkenalkan sayur-sayuran kepada anaknya hingga remaja. Dan setelah dewasa harus ada keinginan dan kesadaran kuat dari dalam diri bahwa jenis makanan seperti sayur-sayur dan buah-buahan memiliki kandungan yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh sehingga dapat dipertahankan hingga usia lanjut.

Melatih Anak. Lalu bagaimana agar anak suka makan sayur-sayuran dan buah-buahan? Berikut beberapa tips dan trik untuk melatih anak agar memiliki kebiasaan makan sayur-sayuran dan buah-buahan sejak usia dini menurut Ristriarie Kusumaningrum, M.Psi, psikolog anak dari Sekolah Cikal, di antaranya:

  1. Orangtua sebaiknya memberikan Contoh kepada anak dan membiasakan diri makan sayur-sayuran dan buah-buahan agar anak memiliki persepsi bahwa makanan sehat itu tetap enak dan sedap untuk disantap.
  2. Menyajikan sayuran secara kreatif sehingga tampak menarik. Misalnya dengan cara dan bentuk yang menarik. Seperti mencetak dengan bentuk yang lucu atau ditambahkan hiasan-hiasan lainnya. Tentunya hal ini akan lebih merepotkan orangtua (ayah atau ibu yang menyiapkan makanan), tetapi kerepotan yang dilakukan tersebut akan sangat berharga bila anak akhirnya menjadi suka makan sayur-sayuran dan buah-buahan. Apalagi jika kebiasaan tersebut ditanamkan sepanjang hidupnya.
  3. Mengolah sayur-sayuran secara beragam sehingga anak tidak bosan. Misalnya dengan cara ditumis, direbus atau diolah dengan bahan makanan lainnya.
  4. Ketika membawakan bekal makanan untuk makan siang kepada anak di sekolah, biasakanlah Salah satu lauknya selalu ada sayur-sayuran ditambah dengan buah-buahan.
  5. Ketika makan bersama atau di saat santai, Anda sebagai orangtua dapat mulai memberi tahu kandungan dalam sayur-sayuran dan buah-buahan, manfaatnya bagi tubuh atau temuan-temuan ilmiah yang menarik dan terkini.
  6. Tetap berikan makanan sehat walaupun awalnya anak menunjukkan penolakan. Variasikan atau sembunyikan rasa tajam yang mungkin kurang disukai dengan rasa !ain sehingga anak tidak akan menyadari kalau mereka sedang makan sayur-sayuran. Contohnya dijadikan kue atau makanan penutup lainnya. Widi

Sumber: Tabloid Info Kecantikan

You Might Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *